Materi Kekerasan

Diposting pada

Materi-Kekerasan

A. Pengertian Kekerasan

Secara umum, pengertian kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang tidak menyenangkan atau merugikan orang lain, baik secara fisik maupun psikis. Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspadai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan sering dikenal dengan istilah bullying.

Kekerasan di dalam institusi pendidikan dapat terjadi, misalnya ketika komunitas pendidikan di dalam sekolah dalam hubungan sosialnya tidak selamanya berjalan mulus karena setiap individu memiliki kecenderungan kepribadian masing-masing, memiliki latarbelakang agama, budaya masing-masing, dan tidak selalu interaksi yang dilakukan setiap hari selalu menguntungkan dan menyenangkan.

Pada kenyataannya, praktik bullying ini dapat dilakukan oleh siapa saja, baik oleh teman sekelas, kakak kelas ke adik kelas, maupun bahkan seorang guru terhadap muridnya. Terlepas dari alasan apa yang melatarbelakangi tindakan tersebut dilakukan, tetap saja praktik bullying tidak bisa dibenarkan, terlebih lagi apabila terjadi di lingkungan sekolah. Tindakan kekerasan atau bullying dapat dibedakan menjadi kekerasan fisik dan psikis.

Kekerasan fisik dapat identifikasi berupa tindakan pemukulan (menggunakan tangan atau alat), penamparan, dan tendangan. Dampaknya, tindakan tersebut dapat menimbulkan bekas luka atau memar pada tubuh, bahkan dalam kasus tertentu dapat mengakibatkan kecacatan permanen yang harus ditanggung seumur hidup oleh si korban.


B. Penyebab Kekerasan

Penyebab kekerasan antara lain:

a.) kekerasan psikis berupa tindakan mengejek atau menghina, menunjukkan sikap atau ekspresi tidak senang, dan tindakan atau ucapan yang melukai perasaan orang lain. Dampak kekerasan secara psikis dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, takut, tegang, bahkan dapat menimbulkan efek traumatis yang cukup lama.

b.) Maraknya tayangan-tayangan kekerasan dalam dunia pendidikan, khususnya yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya ataupun oleh siswa terhadap temannya, seharusnya mampu membuka atau menggugah hati kita sebagai seorang pendidik, bahwa tidak tertutup kemungkinan praktik bullying tersebut terjadi pula di lingkungan sekolah kita masing-masing. Dan terkadang, pemberitaan yang kurang berimbang tentang suatu tayangan kekerasan dapat mencoreng nama baik si pelaku (guru) dan secara umum mencoreng nama baik sekolah yang bersangkutan. Tentunya peran media sebagai jendela informasi harus menelusuri secara komprehensif kejadian tersebut dan menyajikan berita dari segala aspek dan tidak hanya mengeksploitasi tindakan kekerasannya saja.

c.) Kekerasan di sekolah yang dihubungkan dengan istilah intimidasi. Kita tahu bahwa semua sekolah memiliki masalah dengan perilaku intimidasi dari siswa. Setiap sekolah diwabahi penyakit-penyakit penganiayaan fisik, intimidasi dalam suatu hubungan, intimidasi via komputer, ejekan-ejekan yang kejam, gossip yang tidak benar, pengucilan, sentuhan seksual yang tak dikehendaki, serta ancaman dan paksaan. Kita tahu bahwa perilaku intimidasi terjadi paling sering di halaman sekolah, dalam perjalanan dari dan ke sekolah, di koridor-koridor sekolah, di kelas dan kantin, serta di kamar kecil.

Semua sekolah melakukan tindakan intimidasi dan semua sekolah memiliki budaya perilaku intimidasi. Dalam budaya seperti ini, siswa dan orang dewasa sebagai pelaku intimidasi bercampur dalam pola-pola yang kompleks dan menggelisahkan. Contoh-contoh berikut menggambarkan rumitnya hubungan-hubungan ini

  1. Beberapa siswa mengintimidasi siswa lain; beberapa siswa pelaku intimidasi dari siswa-siswa lain; beberapa siswa pelaku ini mengintimidasi guru.
  2. Beberapa guru mengintimidasi siswa; beberapa guru pelaku intimidasi mengintimidasi orangtua.
  3. Beberapa karyawan sekolah mengintimidasi guru, siswa, dan orang tua.
  4. Beberapa kepala sekolah mengintimidasi guru, karyawan, siswa, dan orang tua.
  5. Beberapa orang tua mengintimidasi guru, karyawan sekolah, kepala sekolah, dan anak-anak mereka

d) Kekerasan dan tawuran antar-peserta didik bukan hanya terjadi kalangan pelajar,  melainkan juga para mahasiswa, yang sebenarnya dinilai dari umurnya sudah melampui fase remaja, fase yang seharusnya sudah stabil pergolakan batin dan kejiwaannya. Tawuran antar-mahasiswa, misalnya, hamper setiap saat terjadi. Konflik dalam pemilihan rektor atau perbedaan aspirasi kerap berlanjut dalam bentrokan fisik.


C. Solusi Dan Pencegahan

Ditinjau dari segi Sosiologi Pendidikan, ada beberapa alternatif solusi penyelesaian dan pencegahan terhadap permasalahn kekerasan dalam dunia pendidikan. Yaitu :


1. Peran orang tua dan guru

Kurikulum apapun yang mencoba membangun generasi yang proaktif dan optimis tidak akan pernah efektif mencapai tujuannya apabila system hukuman fisik masih diimplementasikan dalam dunia pendidikan sekolah. Untuk itu ada solusi yang akan ditawarkan. Yakni adanya reposisi orang tua dalam mendidik anak dalam keluarga dan guru dalam mendidik murid di sekolah. Reposisi ini berupa perubahan signifikan pada paradigma masyarakat yang masih sering menggunakan hukuman fisik dalam mendidik.


Selain itu juga perubahan untuk mulai menempatkan guru ataupun orang tua dalan posisi setara dengan pribadi seorang anak. Dengan membiarkan anak melakukan ekspresi dan melakukan keunikan-keunikannya sendiri maka akan membentuk mental yang bagus dan tidak apatis, keunikan anak disini tidak harus dipahami sebagai suatu kesalahan, melainkan suatu perkembangan anak itu sendiri.


Kesadaran anak juga harus dibangun dengan sering mengajak berdialog dan menciptakan komunikasi yang hangat, dan bukan memberikan perintah-perintah dan larangan. Yang terpenting adalah membangun kepribadian untuk sering berpendapat dan mendengarkan pendapat-pendapat mereka. Dan sadarilah masa depan negeri ini ada ditangan anak-anak kita dan oleh karena itu peran orang tua dan guru sangat besar dalam menciptakan kepribadian seorang anak.


2.  Humanisasi Pendidikan

Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif, maka fungsi institusi pendidikan adalah menumbuhkan etika dan moral subjek didik ke tingkat yang lebih baik dengan cara atau proses yang baik pula serta dalam konteks positif. Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih merajalela merupakan indikator bahwa kegiatan pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Disinilah urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi bangsa yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan malah menciptakan individu-individu yang berwawasan sempit, tradisional, pasif, dan tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.


3. Guru, Sebagai Ujung Tombak

Selain menjadi seorang pengajar, seorang guru juga berperan sebagai pendidik dan motivator bagi siswa-siswinya. Sebagai seorang pengajar, guru dituntut berkerja cerdas dan kreatif dalam mentranformasikan ilmu atau materi kepada siswa. Dan berupaya sebaik mungkin dalam menjelaskan suatu materi sehingga materi tersebut bisa diaplikasikan dalam keseharian siswa itu sendiri.

Tugas sebagai pendidik adalah tugas yang sangat berat bagi seorang guru. Guru dituntut mampu menanamkan nilai-nilai moral, kedisiplinan, sopan santun, dan ketertiban sesuai dengan peraturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah masing-masing. Dengan demikian, diharapkan siswa tumbuh menjadi peribadi yang sigap, mandiri, dan disiplin. Dan sebagai motivator, guru harus mampu menjadi pemicu semangat siswanya dalam belajar dan meraih prestasi.

Dari penjelasan di atas, yang terpenting untuk menanggulangi munculnya praktik bullying di sekolah adalah ketegasan sekolah dalam menerapkan peraturan dan sanksi kepada segenap warga sekolah, termasuk di dalamnya guru, karyawan, dan siswa itu sendiri.

Diharapkan, dengan penegakan displin di semua unsur, tidak terdengar lagi seorang guru menghukum siswanya dengan marah-marah atau menampar. Dan diharapkan tidak ada lagi siswa yang melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya. Sebab, kalau terbukti melanggar, berarti siap menerima sanksi.


File Download Materi

Materi Pelajaran Geografi
Update Maret 30, 2020
Ukuran 25.17 KB

Download File Materi


Semoga Bermanfaat, Buat Siswa-Siswi …!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *